Kamis, 04 Juli 2019

Titik Koma (;)


Padamkan amarahmu atas dunia yang sulit direka juga komentar-komentar itu. Cepat atau lambat kau hanya harus memilih; Pulang tapi tak kembali atau menetap dan sesekali menatap lalu jatuh. Namun, jangan lupa untuk tetap tegap melangkah dijalan  yang telah kau yakini berujung damai. Biarlah sunyi membuatku lupa segala tingkahmu. Pun demikian, ikhlaskan keyakinan ini terkubur bersama doa-doa kita.

Bila nanti orang bertanya tentangku, jawab saja "ia telah mengubur dirinya sendiri'.

Kamis, 23 Mei 2019

Hipokrit Kampus



Lambat nian kembang bunga merekah dalam kebosanan. Kutukan bumi merajai ke-primata-an yang sedang lapar berliur-liur. Digenggamnya temali sembari melilit sekujur tubuh. Tidak bebas bergerak, terikat, menggeliat macam cacing menghirup lem.

Ada orang bodoh, ada orang yang dibodohkan. Ada juga orang yang membodohi dirinya sendiri. Yang disebut terakhir ini yang paling parah, Sudah sadar dirinya keliru tapi tetap ngotot ingin dipandang benar. Dan inilah potret orang-orang disekitar kita. Zaman makin berubah, kelakuan orang makin aneh-aneh.

Pada dasarnya korban kebohongan diri sendiri ini adalah mereka yang penakut dengan hari esok. Walaupun tidak semua, kebanyakan dari mereka bersedia membohongi diri sendiri supaya tetap aman terkoneksi dengan jaringan yang sedang mereka bangun, Bisa itu Penguasa atau pengusaha, Pokoknya yang didahulukan adalah masa depan (kira-kira begitu).
 
Dalam diskusi, orang-orang ini biasanya melemparkan argumentasi yang mentah dan membuat sakit perut. Rasanya otak tidak mampu menangkap maksud dan tujuan dari kata-kata yang terlalu banyak variabelnya sehingga sistem pencernaan mengenalinya sebagai racun. Sekali lagi ini demi posisi "Aman" tadi.

Para penjilat-penjilat yang budiman ini senantiasa hadir setiap ada pemenang baru dari suatu pertandingan dan menawarkan diri untuk dipinang. Meninggalkan kawan dan menyalahkan sepak terjang yang sesungguhnya diamini bersama. Berlagak paling militan padahal hanya haus kemapanan. Melabelkan diri sebagai Aktivis pejuang kaum tertindas namun tak malu menindas integritasnya sendiri.Sesungguhnya orang-orang ini visioner, akal sehatnya dibayang-bayangi masa depan dan tak mau buang kesempatan. Selagi bisa menjilat, jilatlah sampai pucat.

Jujur saja pada diri sendiri. Sesungguhnya yang paling mengerti diantara orang mengerti ialah mereka yang mengerti arti sebuah kejujuran. Jangan terlalu mudah terbuai dan jangan lebay. Pejuang bukan mereka yang mengupload foto dengan latar belakang bumbung asap sambil memegang megaphone. Bukan juga yang Caption-nya senang mengutip Soe Hoek Gie. Tidak juga mereka yang tulisan bijaknya memenuhi beranda facebook.

Lantang mengkritik, lihai membuat taktik. Setengah hati dalam perjuangan dan ditinggalkannya ditengah jalan. Ini tentang kita dan keutuhan. Pilihan antara sekedar Bercumbu atau merawat peradaban. Melumpuhkan logika dan menggantinya dengan abu Dodika tidak elok dipertontonkan ke adik-adik kita.

Rabu, 06 Juni 2018

Melerai Kusut

[Butuk]
Sejenak menarik jasad masuk kedalam ruang kontemplasi. Bukan sikap pengecut atau gerakan mundur dari pendalaman peran, melainkan sebagai langkah antisipasi kongkrit dari sebuah keterjatuhan. Terlintas keluh seorang kawan tentang runtuhnya pembatas kesantunan dalam pola pergaulan sosial. Mempersoalkan kebenaran melalui pembenaran sepihak untuk tujuan semu. Hebat berpolemik, maniak bahasa pola, permisif jika berhadapan. 
Selimut hitam ini terasa tanpa wujud ditengah peluk sunyi pukul tiga. Hanya ada suara-suara dari binatang malam yang mengutuk datangnya pagi. Khawatir terang melucut palsu yang di jaga selama ini. Berharap waktu bijak mengulur senja dipelupuk mata. 
Lagi, mimpi aneh mengganggu eksplorasi sudut-sudut imajinasi. Tentang headset kusut yang menghiasi saku. Sulit di lerai kait hasil pergumulan gerak tak menentu. Timpang citra berwujud kaku.

Kamis, 29 Maret 2018

Si Bokag


Entah sebuah kebetulan atau memang keadaan yang memaksa sadar tunduk pada pilihan-pilihan keliru. Semangat pada yang satu dan kebersamaan yang jauh sebelumnya telah dibangun para mogoguyang tidak lagi menjadi nilai yang dipandang berharga. Bagaimana mungkin mimpi berdikari menyentuh lapisan kenyataan sementara kita sibuk dengan kelompok kita sendiri?.
Disamping salah yang pada kenyataannya disadari, ada-ada saja pembenar yang datang menawarkan diri. Kemakmuran jangka panjang turut serta berdiri pongah penuh kebanggaan, adalah mimpi yang masih menari-nari dalam cerita takhayul. Merasa sedang dalam tugas suci padahal sedang dimainkan dalam guci.
Dimana posisi kita? ditengah pusaran kepentingan yang membuat linglung? tanyakan pada sadar yang menunggu diketuk. Sederhana sebenarnya. Duduk bersila, merenung dan lihat kenyataan yang terang. Setidaknya ada kebenaran yang tersembunyi menunggu di teruskan menjadi aksi nyata.
Katanya legowo. Menerima kenyataan dan siap kalah demi kebenaran. Omong kosong! tidak ada kejujuran disetiap peperangan. Apa yang menjadi tujuan itulah titah suci. Perkara usaha menggapainya, berlumuran lumpur busuk, bermandi dusta, adalah benar lakunya.
Tabiat suka berpecah dan lemah. merasa benar sedang kesalahan nyata didepan mata. atau memang ini alasan dibalik protes malaikat saat tuhan menciptakan Adam? setidaknya tanyakan itu pada masing-masing kita.
Tidak ada kami, tidak ada golongan, kita adalah satu yang berpencar. Harapan merajut kembali masih ada. Paling tidak dengan mengingat siapa kita. Bukan untuk mereka diatas sana.
Bokag... Bokag...

Minggu, 04 Februari 2018

Bait-bait Pesakitan

[Turn-Around]
Disini aku menolak luka. Bunyi-bunyian sumbang berarak mencari rumah. Ke perapian dan dingin yang menusuk-nusuk tulang. Dalam kebingungan itu, tak ada cahaya penuntun. Kenyataan intuisi tak cukup membaca situasi. Dikata malam adalah pengikat rindu. Adapun dengan rindu yang liar, Tidak bertuan dan selalu mengganggu? “Itu masalah rasa saudaraku”. Mereka berkelakar.
Tidak! Ini persoalan lain! Ringan langkah kakinya sedikit congkak. Tatapan lembut tak terpancar dikedua bola mata. Rasanya jarak yang diukur tak cukup ditempuh beribu gerhana. Lalu ini tentang apa?
Masih tanpa jawaban. lagi-lagi menantang angin dalam kecepatan. Bergejolak ia didalam, saling beradu siapa yang paling banyak membuang sadar. Tidakkah takut dengan kemungkinan itu? Tanyakan pada hati yang bergoyang mengakar rumput.
Lambat laun jalan semakin tak jelas arahnya. Gemericik air tak cukup merdu mengiringi lirik angin. Ada begitu banyak tanya menumpuk. Sesak nafas berhembus dalam perburuan waktu.
Untuk dia yang mengerti bait-bait pesakitan ini.

Sabtu, 27 Januari 2018

Agama, Manusia Dan Zaman Pembodohan



Manusia sebagai ciptaan Tuhan berbanding lurus dengan makna “Bergantung”. Konsekuensi dari kebenaran ini adalah keterbatasan. Sejauh mana manusia menempatkan rasio sebagai instrument pencarian kebenaran selalu saja dibatasi dengan kedaulatan Tuhan disisi lain. Artinya, akal sebatas ikhtiar manusia sedangkan wahyu berada diatas segala-galanya. Sehingga pengakuan akan ke-Esaannya dimaknai dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan Fundamentalis dalam agama-agama besar dunia yang muncul pada abad pertengahan sampai dengan saat ini sejatinya berasal dari rasa keterasingan. Modernisasi yang mengarah kepada faham materialis dianggap berbahaya bagi kelangsungan agama. Sebagai seperangkat nilai yang mengatur pola hidup manusia berdasarkan nilai-nilai kudus selama berabad-abad lamanya, kegelisahan ini tampak bisa dipahami. Pada masa ini, geraja, masjid, sinagog tidak lagi mampu menarik jemaatnya. Hal ini oleh dianggap sebagai dekadensi moral umat manusia.
Masyarakat religius merasa asing dengan dunia mereka. Isu sekularisasi di propagandakan dimana-mana. Leberalisasi berkedok “Humanisme” mengangkat derajat manusia setinggi-tingginya dan Tuhan serta agamanya dipandang sebagai sejarah yang tertinggal. Manusia harus selalu bergerak kedepan tanpa dihalang-halangi oleh doktrin agama yang mengikat kebebasan.
Kehancuran yang diakibatkan pandangan ini telah Nampak didepan mata kita. Penindasan manusia oleh manusia terjadi disetiap sudut bumi. Misi menjadi Khalifah telah dipelintir maknanya menjadi kekuasaan yang sewenang-wenang. Negara bahkan dunia dikuasai oleh segelintir orang. Mengeruk keuntungan tidak dibatasi oleh moral. Dunia menjadi tempat mencari kekayaan materi dan hanya itu saja.

Mencontoh Gerakan Revolusioner Rasulullah

Apa yang terjadi di dataran arab yang tandus sekitar abad keenam patut kita renungkan. peperangan antar suku dan masalah sosial yang kompleks menjadi saksi kelahiran manusia pilihan tuhan yang hadir sebagai teladan karena akhlak dan budi pekertinya. Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Muthalib lahir pada tahun gajah sekitas 570 Masehi. Sebelum kenabiannya beliau sudah dikenal karena kujujuran dan keluhuran budinya.
Sebagai penutup para Nabi dan Rasul Muhammad Rasulullah hadir ketika kekufuran dan kesyirikan merajalela dibumi Tuhan. Penyimpangan terhadap ajaran Nabi-nabi sebelumnya dan praktek penyembahan berhala telah membawa satu tesis yang penting; Revolusi Akhlak dan Aqidah.
Apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah menjadi bukti mutlak bahwa Tuhan tidak pernah berpaling dari ciptaannya. Sekilas mustahil memang. Seorang yang tidak tahu baca-tulis tiba-tiba mampu memberikan pengharapan kepada kaum tertindas serta menuntun kembali ke jalan kebenaran. Namun kita tahu, Tuhan dengan segala kuasanya.
Perbudakan, penindasan terhadap kaum wanita, dan kebanggaan berlebihan terhadap suku sendiri tak pelak melahirkan tatanan masyarakat yang immoral dan menyedihkan. Terciptalah masyarakat dengan struktur kelasnya. Disinilah peran Nabi Tuhan menghapuskan segala macam bentuk penindasan manusia oleh manusia. Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior. Yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya hanyalah ketakwaannya terhadap sang pencipta.
Persaudaraan kemanusiaan adalah harus ditegakkan. Perbedaan adalah sunnatullah yang hikmahnya agar manusia saling mengenal. Sehingga tidak ada alasan perbedaan melahirkan kehancuran. Semangat revolusioner Islam sebagaimana yang dicontohkan Muhammad Rasulullah demi menegakkan keadilan dibumi Tuhan jelas bertentangan dengan etos kapitalisme. Dimana materi dituhankan sementara Tuhan yang sebenarnya dilupakan.

Kemana arah Aksi?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah akan kemana arah perjuangan ini ? Kita berada dizaman pembodohan dan kerakusan elit. Perubahan adalah idiom yang menunggu aksi nyata. Dekadensi moral adalah masalah serius. Rekonstruksi sosial jangan hanya berhenti sebatas wacana.
Tanggalkan segala ego kekanak-kanakkan. Berjuanglah hanya untuk cita-cita mulia dalam penantian “The second coming”, turunnya yesus dibumi dengan misi penyelamatan. Sehingga tatanan dunia bersih dari kejahatan iblis dan sekutunya. Dan pada akhirnya kembali disisi Tuhan dalam damai.

Minggu, 31 Desember 2017

Bahasa Di Penghujung Tahun





 
[Penghujung Tahun]

Ada godaan diawal langkah kaki. Sebab pertama yang nantinya mengiringi akibat selanjutnya. Soalan siapa dan bagaimana tidak lagi terbaca. Sebab putaran semesta masih sama. Ukuran seperti apa yang diperlukan? Dimana yang patah tersambung kembali. Kali ini jangan lagi berjalan tanpa harapan menunggu didepan. Frasa adalah penjelas yang sesungguhnya. Ia tidak bersembunyi atau berkamuflase dengan apa yang terlihat. Lebih dari itu, ia adalah bahasa yang lebih dalam. 
Aku tidak pernah mencari dan mengganti jalan. Kepercayaan pada tutur masih nampak meyakinkan. Kendati jurang semakin tak terhingga. Akupun tak mengerti bagaimana mungkin adalah mungkin. Bagiku semua bukan imaji liar. Entah apa yang lebih tinggi dari keyakinan ini. Mungkin tidak ada.
Saat-saat dimana bayangmu menjelma rindu dan aku terpaku disudut malam. Bayangkan lelah tak berjumpa dengan bangkit. Menyusun kembali serat-serat mati dari apa yang dinamakan mengerti. Bukan lagi hari ini atau kemarin. Esok adalah jawaban kusut dari lipatan hidup yang menemukan jawabnya. Masalah luka menganga yang tak kunjung kering soalan lain. Yang sakral tak pernah berpaling dan menilai pada apa yang tersesat dan mengharap pulang.
Misteri hidup yang menawarkan banyak genangan. Walau senyum kadang juga datang mendekap pagi dan petang.  Nyatanya itu semua tak cukup membendung kengerian akan hati yang tak kunjung menemukan pada siapa ia akan tinggal dan menetap. Selalu saja ada dinding yang retak disela-sela tawa. Ihwal senja yang semakin redup bersuara pada bercak pintu. Menunggu capaian dipuncak peluk gelap.
Malam penghabisan hari ditahun ini, semerbak wewangian mendapat tempat. Alpa yang sadar oleh aroma merpati petualang. Semoga hari-hari esok adalah jawaban.

Senin, 18 Desember 2017

Cerita Dari Negeri Taknyata

[Camar]
Disebuah negeri Taknyata, sedikit nyata, kenyataannya sedikit memalukan, nyatanya? sebegitu rumitkah kenyataan? nyata menggelitik. Konon dizaman itu, nyata perbedaan menjadi identitas yang dibanggakan. Sepak terjang juga manuver seperti lalat-lalat mengerubungi yondog basi. Tersebutlah sekelompok orang yang ditunjuk oleh raja sebagai pewaris untuk tinggal dan bertanggung jawab terhadap istana. Mereka menempati dua istana yang pada masa sebelumnya adalah milik kerajaan besar bernama Tobatu'. Selanjutnya, empat kerajaan lain mendirikan kerajaannya sendiri-sendiri dengan nama baru dan mandiri. Kerajaan-kerajaan baru itu bernama, deewa, tolu, opat dan lima. Menurut hukum dan kebiasaan secara otomatis istana yang sebelumnya adalah milik bersama, menjadi hak milik kerajaan asal (Induk) yaitu kerajaan Tobatu'. Kelima kerajaan yang pernah satu ini hidup dalam rukun dan harmonis. Kedamaian itu berubah ketika timbul rasa iri dari salah satu kerajaan.
Lahirlah kelompok yang merasa mempunyai hak kepemilikan istana Tobatu'. Mereka yang menamakan kelompok mereka sebagai PK (Pejuang Kesatuan) menganggap dua istana yang cukup nyaman itu adalah milik bersama tak ubahnya dulu. Awalnya gaungan mereka tidak terlalu diindahkan oleh para pewaris, dengan anggapan itu adalah pandangan yang tidak masuk akal dan mengada-ngada. Bagaimana mungkin istana mereka dianggap milik bersama sedangkan dengan jelas tertulis dan diakui secara hukum milik kerajaan Tobatu'? begitu pikir mereka. Namun demikian, walau sudah mendengar berita itu, dengan sifat penyayang dan ketulusan hatinya, mereka tetap menerima kunjungan dari saudara-saudaranya itu dan tidak pernah menutup pintu.
Kemarahan muncul ketika PK dengan tidak berperasaan dan tata krama membuat pesta di salah satu istana tanpa izin. Dengan tanpa rasa berdosa mereka berpesta ria tenggelam dalam hingar-bingar. "Istana ini adalah milik kami juga" begitu mungkin pikir mereka.
Dengan marah, pewaris istana mengadakan pertemuan dan memandang apa yang dilakukan PK adalah suatu pemberontakan yang harus diberangus sampai keakar-akarnya. Ini adalah Sebuah upaya untuk merebut istana mereka. Bedasarkan penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan mereka menemukan fakta dibalik pemberontakan itu. Ada usaha-usaha terselubung yang sarat kekuasaan. Ada oknum yang coba memanfaatkan perpecahan demi kepentingannya kedepan.

"Jangan harapkan surga dalam perjuangan penuh dosa".

Bersambung...

Minggu, 10 Desember 2017

Sssttt... Sedang Dalam Tugas Suci

[Secret]
Kebanyakan dari kita berfikir telalu jauh. Militansi palsu yang dibungkus kepentingan kekuasaan demi sesepuh yang disakralkan. Tembok tinggi tak membendung semangat yang didasarkan pada anggapan "Sedang mengemban tugas suci". Memainkan peran penting demi tercapainya cita-cita agung. Menggali jurang pemisah antara kawan dan lawan. sekali-kali tidak membuka pintu bagi mereka yang berseberangan. Mirip koboi namun lebih halus cara membunuhnya.
Kita mengenal banyak pembaharu dalam islam. sebut saja Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-afghani, Yusuf Qhardhawi, Muhammad iqbal. Kalau diindonesia ada KH. Hasyim Asyary, KH. Ahmad Dahlan dan lain-lain. Untuk tataran yang lebih kecil barangkali saudara-saudara kita itu aktor utamanya. Kata mereka semangat persatuan "Raya" adalah mutlak. Walau hanya pada pengertian golongannya.
Lucu kiranya berbicara tentang persaudaraan, pogogutat, motobatu' namun luput pemahaman pada pengertian lain. Sedikit benarnya apa yang dikata orang bijak tentang "obsesi melangit". Ketika merasa diri diatas, menengok kebawa adalah tabu yang berkonsekuensi "dosa Besar". Pencapaian nirwana adalah ambisi yang pada perjalanannya bermain-main dengan iblis. Keliru? setidaknya bagi mereka cukup jelas "tujuan menghalalkan cara". 

Siapa Kesatria Itu?

Bagi kebanyakan kesadaran yang dibius penyakit hati, tidak ada kemungkinan terjadi kolaborasi dengan diluar golongannya. "kesatria hanya ada satu! golongan kami!" tidak terlalu mengherankan jika kita mengambil pengertian dalam bingkai pertanyaan "Siapa kesatria itu?". Tentu medan pertempuran hanya ada mereka dan parah sesepuhnya yang nanti dikemudian hari akan dikenal sebagai pahlawan. 
Begitulah dunia dengan sifat permainannya. Bukankah iblis selalu membungkus keburukan dengan intan berlian? sehingga mempersulit persatuan antar umat Muhammad Rasulullah.

Rekonstruksi Makna Motobatu'

Persatuan diabad ini bahkan pada abad-abad sebelumnya, ketika dunia mulai mengenal nasionalisme, adalah suatu idiom yang digaung-gaungkan hampir disetiap penjuru bumi. Disadari bahwa kehidupan yang aman, damai sentosa tidak akan terwujud jika masing-masing bersikukuh pada makna sendiri-sendiri. Oleh dengannya, dalam budaya orang Mongondow-pun tidak lepas dari semangat-semangat luhur ini. Kita mengenal budaya motobatu' (persatuan) sebagai filosofi hidup yang akan senantiasa dimaknai dalam  praktek gotong-royong. Satu semangat yang nantinya akan membawa bumi totabuan dalam kehidupan berdikari, tidak benalu apalagi membuat malu. 
Pada kenyataannya, makna motobatu' masih tertidur jauh dibawah kesadaran adi luhur yang dilelapkan politik golongan.

Kambing

[Pixabay : Goat]
Entah kambing itu telah mati atau sudah beranak lagi. Tak pasti yang keberapa. Hanya dia, suami-suaminya dan tuannya yang tahu. Ia tak pernah mengira jika pandangannya yang hanya berdurasi sekitar lima detik itu adalah kurungan bagi lisan yang telanjur bersuara. Tidak juga kerabat atau handai tolannya yang kebetulan ada disana. Tak terhitung berapa derap langkah. Saat hujan atau terik mentari yang membakar, tak pernah seharipun, tidak berkunjung ketempat itu. Kenapa tidak berpaling mencari tempat lain, masih menjadi misteri yang iapun tak pernah mempertanyakannya. Bahkan, saat bertemu dengan sang jantan yang menjadi pengesah kedewasaanya, juga disana. Sebagian besar catatan penting nafasnya, terpahat di dinding pertahanan yang disampingnya ada rimbun tempat berteduh sekali-sekali.
Memang hanya menimbulkan tanya tak berjawab. Detik-detik adalah gumpalan awan-awan tak berpenumpang. Kadang lurus, berkelok, menanjak, menurun, menjadi warna pelengkap lahirnya gambaran nyata petang. Terhinakan proses panjang sebuah pencarian. Lantas siapa yang patut disalahkan? pribadi yang berubah atau keadaan yang berpaling dari cermin? sekelumit pinta dihaturkan pada sang maha mendengar.
Sekali lagi, tuangkan rasa pada cendawan suci tempat darah kristus ditampung. Biarkan ia mengering dan hilang seiring waktu berjalan. Musim dan suhu yang berubah-ubah tak kuasa menahan laju keriputnya. Ada orang yang dipertemukan, mengenal, beriringan, meninggalkan bercak, lalu pergi dan tak pernah kembali. Sampai kita lupa bagaimana berpura-pura. 

Minggu, 03 Desember 2017

November Dan Uap Setelah Hujan

[Hujan November]

November dan uap setelah hujan
Ada asa yang tertinggal
Pandangan menerawnag jauh ketika basah
Tawa dan tangan liarmu
Detik itu tak ada cemas
Bumi adalah taman bagi dewa yang cemburu
Dimana laku kita adalah pusatnya
Satu alasan merobohkannya
Berbagi duka dirumah Tuhan
Berharap pangkuannya menentramkan
Bersyaf lurus; sujud penuh khidmat
Jalan harapan menunggu dijamah
Ia mengangkat cinta dipermukaan realitas
Membelai kata memenjara rasa
Disampingnya duduk malaikat
Mencatat bahasa hati menjelma tindakan
Kau bertanya : adakah jalan lurus-lurus saja?
Adakah nurani memberi jawaban pasti?
Tidak cinta, kamarpun menghimpit
Meretakkan tulang manusia ingkar

Minggu, 19 November 2017

Gezag

Riak-riak sungai adalah pulang
Peluk hutan adalah senyap
Yang batangnya menunggu dibabat
Lumat Terinjak sepatu busuk tuan asing
Untuk kalian yang dikenang darah
Dengarlah suara minor yang dicebur dalam selokan
Berkubang dosa-dosa mereka para elit mapan
Diseret bak pesakitan oleh hukum tak berkeadilan
Tanah yang dulu kau pijak bukan lagi tanah kami
Air yang dulu kau teguk bukan lagi air kami
Penyakit bangsa buntut gezag zalim
Adalah kami cermin Sabang-Merauke

Rabu, 08 November 2017

Tanjung Keramat Dan Batu Karang

Tanjung keramat dan batu karang
Naluri berbisik dalam pejam
Kepada daun yang kian mengering
Terik yang senang memantulkan ilusi
Cemar udara aroma keringat gairah
Jalan kerikil menyambut kita dengan umpatan
Nyata berteriak “bagaimana dengan kesaksian nanti?”
Sesaat terketuk pintu namun seketika dibanting
Kudapati hikmah diujung cerita
Ketika kau beranjak menjauh dengan duniamu
Akupun sibuk menata risalah
Kita menyimpan cerita yang sama dengan makna berbeda
Hingga terjaga dari lelap yang sadar
Mencairnya batu karang ditanjung keramat
Kenyataan telah berbalik
Berkhianat pada penyatuan jasad yang merobek

Pemuda, Sebuah Pembacaan

Terlalu sering sejarah mencatat, pemuda sebagai  motor penggerak utama perubahan radikal pada suatu Negara atau bangsa. Dengan semangat yang masih berkobar-kobar, idealisme yang keras laksana baja, kaum yang satu ini mampu mengantarkan cita-cita perubahan tidak hanya menjadi suatu bualan tanpa arti. Mimpi tentang tatanan Negara yang memihak rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam Negara Demokrasi adalah suatu kebutuhan yang harus ada dalam setiap perjuangan gerakan kaum muda.
Negara ini pun tak lepas dari kontribusi besar kaum yang berani namun kadang sulit diatur ini. Lengsernya sang pemimpin besar revolusi sampai dengan episode berdarah-darah pada Sembilan delapan hingga mundurnya the smiling president yang berkuasa lebih dari tiga dasawarsa. Semua kisah heroik itu terukir dengan apik bahkan tak jarang berubah menjadi pengkultusan sejarah .
Delapan puluh Sembilan tahun yang lalu, orang-orang muda pilihan dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul dalam agenda merumuskan sumpah yang menjadi konsensus bersama dalam kehidupan berbangsa. Jauh sebelum Negara Indonesia terbentuk, kesadaran berbangsa telah lebih dahulu dibangun.

Soempah pemoeda!
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengjoengjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

 Disetiap perjalanannya dalam usaha mengibarkan panji-panji keadilan di negeri ini, tidak sedikit tekanan dan upaya membungkam suara-suara mereka gencar dilakukan oleh penguasa. Penculikan aktivis-aktivis mahasiswa menjadi corak yang melekat dalam pemerintahan orde baru. Namun sekali lagi, dengan gagah berani melawan tirani, semangat juang meraka tak pernah surut.
Disini perlunya pengkajian sejarah secara cermat. Bagaimana kaum muda sebelumnya bertindak, militansi perjuangannya, terindikasi tidaknya pergerakan mereka dengan politik, atau gerakan mereka hanya sebuah gambaran luar dari tatanan global yang bermuara dari Negara-negara pemegang modal (kapitalis).
Lantas bagaimana kondisi kaum muda saat ini? Masih adakah semangat juang yang tersisa?  

Pemuda Dalam Islam
“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)…” (QS. Yunus:83)
Gambaran Al-quran diatas adalah bentuk ideal pemuda. Berani menentang rezim zalim Fir’aun demi sebuah kebenaran. Seorang Nabi dan Rasul yang dalam islam dijuluki sebagai bapaknya para Rasul ketika mendakwahkan ajaran tauhid pun adalah seorang pemuda.
Salah satu sahabat karib sekaligus kerabat nabi yang masuk islam sejak awal juga adalah pemuda. ialah Ali Bin Abi Thalib. Beliau setia menemani nabi pada masa-masa terberat dalam usaha menyiarkan islam. Dikucilkan dari komunitas, hingga ancaman pembunuhan tak menyurutkan komitmennya dalam kebenaran. Sikap berani menghadapi tantangan melawan kebatilan telah menjadi ciri khusus pemuda sejak dulu.
Sebuah Jawaban 
Namun demikian, risalah perjalanan kaum ini dalam pergolakannya tak mululu bicara pada persoalan positif. Tidak sedikit dari mereka terlibat dalam hal-hal negatif. Meng-globalnya budaya barat telah mengantarkan bangsa ini terutama pemudanya berada dalam labirin menyesatkan yang disetiap sudutnya terdapat berbagai macam godaan yang terlalu membumi. Alhasil, lahirnya generasi-generasi materialistis yang tidak bisa diharapkan. Ciri-ciri ini, mulai Nampak jelas didepan mata.
Dengan alasan pembangunan ekonomi, Negara terkesan cuek dengan kondisi moral anak bangsa. Negara dalam fungsinya menjaga stabilitas sosial guna mempersiapkan generasi emas yang nanti akan membawa Negara ini menjadi Negara yang madani, perlu segera mencari solusi. Pembangunan tidak hanya dilakukan pada lini yang bersifat materil, namun harus menyentuh pada masalah membangun budaya-moral.
Penguatan budaya nasional yang menjunjung etika dan moral perlu menjadi perhatian utama. Majunya suatu Negara ditentukan oleh kualitas moral anak bangsa. Ketika moral pemudanya terbangun, maka harapan dan cita-cita bangsa akan memperoleh ahli waris berkualitas yang dapat dipercaya memegang tongkat estafet perjuangan selanjutnya.

Azan

Pemuda itu duduk terpaku di dalam kelas. Tangan kanannya menggenggam surat peringatan dan tangan kirinya menggenggam tas plastik berisi uang sepuluh ribuan dan beberapa uang receh. Hasil kerja keras membanting tulang sebagai buruh tani, menanam, mencangkul, lelah, berkeringat, berjemur. Masih belum cukup juga.
Untuk ketiga kalinya diminggu ini dia menerima surat yang sama. semuanya Berisi peringatan agar segera melunaskan uang SPP. Pandangannya kosong. Jauh didalam sana, di hati yang paling dalam berkobar api semangat belajar yang seakan mulai redup perlahan diterpa angin kenyataan. Kenyataan di Negara yang katanya sudah merdeka sejak 70 tahun lalu.  masih saja ada rakyat yang berjuang melawan kerasnya hidup demi pendidikan. Amanat Negara bahwa semua warga Negara berhak memperoleh pendidikan yang layak, masih jauh dari kenyataan.
Lonceng berdering. Sebuah SMA yang terletak di ujung desa yang tidak terdapat dipeta versi manapun, mendadak ramai dengan puluhan siswa-siswi yang keluar dari kelas.
“Azan!” teriak seorang anak muda yang berbadan tegap dan berperawakan sangar kepada seorang anak muda lain yang berjalan tak jauh darinya.
Azan menoleh. Sesaat kemudian dia segera membalikkan wajahnya dan langsung melangkah cepat kearah gerbang sekolah. Tanpa menoleh lagi kebelakang dia semakin mempercepat langkahnya. Anak yang memanggilnya tadi adalah Wanto. Teman sekelas Azan, Preman sekolah sekaligus murid paling setia alias tidak naik kelas, tiga kali berturut-turut. Berbagai macam julukan disematkan di belakang namanya. Yang paling sering dipakai adalah Destroyer.
Belum hilang memar dipipi Azan Hadiah pemberian wanto karena Azan tidak memberinya jawaban saat ujian fisika minggu lalu. Sebagai seorang siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu (penghalusan kata miskin), Azan selalu mendapat ejekan dari teman-temannya.
*
Dibesarkan oleh ibunya sejak kecil, tak pernah mengenal ayahnya. Azan tumbuh sebagai anak mandiri dan sangat mencintai ibunya. Wanita yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah baginya. Wanita yang selalu membela Azan ketika diganggu teman-temannya. Wanita yang memberikannya kasih sayang yang tak didapatinya dari laki-laki yang disebut “ayah”. Hanya ibunya seorang yang memberinya kasih sayang. Hanya ibu yang menjaganya ketika sakit. Memeluknya ketika dia terjatuh. Mengobatinya ketika dia terluka. Menghiburnya ketia dia bersedih.
“anak haram… Anak haram…” ejek teman-temannya. waktu itu Azan berumur delapan tahun.
“aku bukan anak haram!” teriak Azan sambil menahan tangisnya.
“kalau kamu bukan anak haram, siapa ayahmu?”
Azan terdiam. Pertanyaan yang juga selalu dia tanyakan namun tidak pernah mendapat jawaban dari ibunya.
“ayah dimana? Kenapa ayah tidak pulang-pulang?”Tanya Azan dengan polos saat berumur lima tahun.
“ayahmu masih bekerja sayang. Nanti kalau sudah selesai pekerjaannya ayah akan pulang nak” jawab ibunya.
“tapi kapan bu’? kapan ayah pulang?”
Ibunya terdiam. Tak tahu mau menjawab apa. Dia sadar anaknya pasti akan mempertanyakan
ayahnya suatu saat nanti. Namun tak disangkanya secepat ini. Jauh didalam hatinya,  sebenarnya dia juga merindukan pria itu. Meskipun luka masa lalu masih basah dan terasa perih karena penghianatan, dia tak bisa membohongi kalau dirinya masih memendam rasa sayang.
*
 Azan duduk termenung dibawah pohon beringin besar di samping lapangan tak jauh dari sekolahnya. Terbayang kata-kata dari gurunya tadi. Ancaman akan dikeluarkan dari sekolah apabila tidak membayar SPP yang telah menunggak tiga bulan, semakin membuat dadanya sesak. Harapan dan cita-cita yang tinggi dari anak seorang tukang cuci rasanya selalu direnggut oleh tuntutan ekonomi yang semakin hari semakin tinggi. Sebuah harapan yang hanya menjadi mimpi semu di negeri yang katanya “TANAH SURGA”.
Tak jauh darinya seorang lelaki paruh baya berjalan dengan langkah pelan penuh kehati-hatian. Goresan-goresan keriput memenuhi wajahnya. Bora. Begitu penduduk sekitar memanggilnya. Umurnya sekitar lima puluh tahun. Hidup susah, tinggal sendiri di sebuah gubuk reyot disamping sekolah, tanpa istri, anak atau sanak saudara. Namun begitu, dia sama sekali tidak mau dikasihani. Semua orang tahu dia adalah pekerja keras. Rajin berkebun dan hasil dari kebun itu dia makan sendiri.
“aku bisa berusaha sendiri!” teriaknya ketika ada warga yang mengantarkannya makanan. Sejak saat itu warga sekitar tak berani mengantarkan makanan kepadanya. Anak-anak takut kepadanya. Kegarangan kakek itu telah terkenal di seantoro desa. Pernah ada beberapa anak yang mengambil buah mangganya. Bora berteriak dan memarahi anak-anak itu. Beberapa berlari berhamburan dan yang masih berada diatas pohon di cungkilnya dengan kayu.
Menurut cerita penduduk sekitar, dulu keluarganya tergolong orang berada. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Sebagai anak tunggal, Bora sangat disayangi orang tuanya. Berperilaku baik dan tergolong murid yang cerdas disekolah. Dari kecil tidak pernah merasakan susah. Apa yang dimintanya selalu dituruti oleh orang tuanya.
Waktu umurnya enam belas tahun, secara mengejutkan ayahnya meninggal dunia. Tak berselang berapa lama ibunya menyusul menghadap yang maha kuasa. Cerita yang beredar orangtuanaya meninggal akibat guna-guna.
Semenjak itu hidupnya berubah. Harta warisan orangtuanya tak tahu kemana. tak punya biaya lagi akhirnya mau tidak mau harus putus sekolah saat kelas dua SMA. Cita-cita tingginya ingin menjadi dokter terkubur bersama jasad orangtuanya. hidup sendiri hingga tua dan tak menikah membuatnya seakan membenci kehidupan. Tak pernah tersenyum dan selalu cemberut.
Azan memperhatikan orang tua itu. Membayangkan kakek itu sebenarnya tak jauh beda dengan nasibnya. Kakek itu adalah salah satu bukti nyata bahwa di negeri ini, hanya orang kaya yang bisa sekolah. Hanya orang yang memiliki uang yang bisa sekolah. Pendidikan hanya untuk orang kaya dan berada. orang miskin tak punya hak yang sama. Hak yang seharusnya menjadi hak paling asasi warna Negara tak tersentuh kebijakan atau bahkan sengaja dilupakan. Kenyataan itu semakin membuatnya berkecil hati.
Dengan dada yang dipenuhi rasa khawatir membayangkan dirinya akan berakhir seperti nasib lelaki tua itu, Azan pulang kerumah. Didalam rumah berdinding papan yang sudah sangat memprihatinkan itu, Didapatinya ibu sedang terbaring lemas tak berdaya diatas tempat tidur. Sudah beberapa hari ini ibunya tidak bekerja. Badannya panas dan semakin kurus.
“sudah pulang zan?” Tanya ibunya ketika Azan membuka tirai kamar ibunya yang tak berpintu. Azan mengangguk seraya mendekati ibunya. Mencium tangan dan dahinya.
“ibu sudah makan?” tanyanya pelan.
Dengan mata agak terpejam ibunya mengangguk. Beberapa saat kemudian Azan keluar dari kamar ibunya dan menuju ke kamarnya untuk ganti baju. Betapa Azan sangat menyangi ibunya. Wanita yang telah membesarkannya seorang diri, berperan sebagai ibu sekaligus ayah baginya. Wanita yang memasangkan kancing bajunya yang lepas, membuatkan telur mata sapi kesukaannya dan tak pernah mengeluh dengan nasib yang telah menghianatinya.  
Malamnya ketika habis sholat isya dia duduk disamping ibunya yang masih terbaring lemas, Azan membaca Al-qur’an dengan khusyu’. Suaranya merdu. Lengkungan tajwidnya terdengar indah. Ibunya mendengarkan dan perlahan air mata mengalir dari kedua matanya yang terpejam.
“lanjutkan nak. Ibu ingin mendengar kamu mengaji” kata ibunya dengan lirih ketika Azan hendak mengakhiri bacaan qur’annya. Azan kemudian meneruskan bacaannya sampai ibunya tertidur.
*
            Azan duduk termenung di beranda rumahnya. Matanya bengkak. Merah. Tak disangka malam itu adalah saat terakhir ibunya mendengar dia mengaji. Ibunya telah mengahadap tuhan. Kini dia benar-benar merasa sendiri. Putus asa. Tak tahu harus berbuat apa ketika didapatinya satu-satunya orang yang membuatnya tetap semangat menjalani kehidupan yang keras ini harus pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Satu lagi anak negeri yang harus kehilangan semangat meraih cita-cita tinggi akibat kemiskinan. Pembangunan hanya dilakukan dikota-kota besar untuk meningkatkan gengsi Bangsa sementara rakyat kecil masih saja menghadapi ketidak jelasan nasib akibat kemiskinan.


Keterangan :Cerpen ini pernah diikutkan dalam lomba “Menulis cerpen Mahasiswa se-provinsi Gorontalo” pada tahun 2016 dan masuk daftar lima belas besar naskah terbaik dari 45 perserta.





Titik Koma (;)

Padamkan amarahmu atas dunia yang sulit direka juga komentar-komentar itu. Cepat atau lambat kau hanya harus memilih; Pulang tapi tak kem...