Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Juli 2019
Titik Koma (;)
Padamkan amarahmu atas dunia yang sulit direka juga komentar-komentar itu. Cepat atau lambat kau hanya harus memilih; Pulang tapi tak kembali atau menetap dan sesekali menatap lalu jatuh. Namun, jangan lupa untuk tetap tegap melangkah dijalan yang telah kau yakini berujung damai. Biarlah sunyi membuatku lupa segala tingkahmu. Pun demikian, ikhlaskan keyakinan ini terkubur bersama doa-doa kita.
Bila nanti orang bertanya tentangku, jawab saja "ia telah mengubur dirinya sendiri'.
Minggu, 04 Februari 2018
Bait-bait Pesakitan
![]() |
| [Turn-Around] |
Disini aku menolak
luka. Bunyi-bunyian sumbang berarak mencari rumah. Ke perapian dan dingin yang
menusuk-nusuk tulang. Dalam kebingungan itu, tak ada cahaya penuntun. Kenyataan
intuisi tak cukup membaca situasi. Dikata malam adalah pengikat rindu. Adapun dengan
rindu yang liar, Tidak bertuan dan selalu mengganggu? “Itu masalah rasa
saudaraku”. Mereka berkelakar.
Tidak! Ini persoalan
lain! Ringan langkah kakinya sedikit congkak. Tatapan lembut tak terpancar
dikedua bola mata. Rasanya jarak yang diukur tak cukup ditempuh beribu gerhana.
Lalu ini tentang apa?
Masih tanpa jawaban.
lagi-lagi menantang angin dalam kecepatan. Bergejolak ia didalam, saling beradu
siapa yang paling banyak membuang sadar. Tidakkah takut dengan kemungkinan itu?
Tanyakan pada hati yang bergoyang mengakar rumput.
Lambat laun jalan
semakin tak jelas arahnya. Gemericik air tak cukup merdu mengiringi lirik angin.
Ada begitu banyak tanya menumpuk. Sesak nafas berhembus dalam perburuan waktu.
Untuk dia yang mengerti
bait-bait pesakitan ini.
Minggu, 31 Desember 2017
Bahasa Di Penghujung Tahun
Ada godaan diawal
langkah kaki. Sebab pertama yang nantinya mengiringi akibat selanjutnya. Soalan
siapa dan bagaimana tidak lagi terbaca. Sebab putaran semesta masih sama.
Ukuran seperti apa yang diperlukan? Dimana yang patah tersambung kembali. Kali
ini jangan lagi berjalan tanpa harapan menunggu didepan. Frasa adalah penjelas
yang sesungguhnya. Ia tidak bersembunyi atau berkamuflase dengan apa yang
terlihat. Lebih dari itu, ia adalah bahasa yang lebih dalam.
Aku tidak pernah
mencari dan mengganti jalan. Kepercayaan pada tutur masih nampak meyakinkan.
Kendati jurang semakin tak terhingga. Akupun tak mengerti bagaimana mungkin
adalah mungkin. Bagiku semua bukan imaji liar. Entah apa yang lebih tinggi dari
keyakinan ini. Mungkin tidak ada.
Saat-saat dimana
bayangmu menjelma rindu dan aku terpaku disudut malam. Bayangkan lelah tak
berjumpa dengan bangkit. Menyusun kembali serat-serat mati dari apa yang
dinamakan mengerti. Bukan lagi hari ini atau kemarin. Esok adalah jawaban kusut
dari lipatan hidup yang menemukan jawabnya. Masalah luka menganga yang tak
kunjung kering soalan lain. Yang sakral tak pernah berpaling dan menilai pada
apa yang tersesat dan mengharap pulang.
Misteri hidup yang
menawarkan banyak genangan. Walau senyum kadang juga datang mendekap pagi dan
petang. Nyatanya itu semua tak cukup
membendung kengerian akan hati yang tak kunjung menemukan pada siapa ia akan
tinggal dan menetap. Selalu saja ada dinding yang retak disela-sela tawa. Ihwal
senja yang semakin redup bersuara pada bercak pintu. Menunggu capaian dipuncak
peluk gelap.
Malam penghabisan hari
ditahun ini, semerbak wewangian mendapat tempat. Alpa yang sadar oleh aroma
merpati petualang. Semoga hari-hari esok adalah jawaban.
Minggu, 10 Desember 2017
Kambing
![]() |
| [Pixabay : Goat] |
Memang hanya menimbulkan tanya tak berjawab. Detik-detik adalah gumpalan awan-awan tak berpenumpang. Kadang lurus, berkelok, menanjak, menurun, menjadi warna pelengkap lahirnya gambaran nyata petang. Terhinakan proses panjang sebuah pencarian. Lantas siapa yang patut disalahkan? pribadi yang berubah atau keadaan yang berpaling dari cermin? sekelumit pinta dihaturkan pada sang maha mendengar.
Sekali lagi, tuangkan rasa pada cendawan suci tempat darah kristus ditampung. Biarkan ia mengering dan hilang seiring waktu berjalan. Musim dan suhu yang berubah-ubah tak kuasa menahan laju keriputnya. Ada orang yang dipertemukan, mengenal, beriringan, meninggalkan bercak, lalu pergi dan tak pernah kembali. Sampai kita lupa bagaimana berpura-pura.
Sekali lagi, tuangkan rasa pada cendawan suci tempat darah kristus ditampung. Biarkan ia mengering dan hilang seiring waktu berjalan. Musim dan suhu yang berubah-ubah tak kuasa menahan laju keriputnya. Ada orang yang dipertemukan, mengenal, beriringan, meninggalkan bercak, lalu pergi dan tak pernah kembali. Sampai kita lupa bagaimana berpura-pura.
Minggu, 03 Desember 2017
November Dan Uap Setelah Hujan
![]() |
| [Hujan November] |
November dan uap setelah hujan
Ada asa yang tertinggal
Pandangan menerawnag jauh ketika basah
Tawa dan tangan liarmu
Detik itu tak ada cemas
Bumi adalah taman bagi dewa yang cemburu
Dimana laku kita adalah pusatnya
Satu alasan merobohkannya
Berbagi duka dirumah Tuhan
Berharap pangkuannya menentramkan
Bersyaf lurus; sujud penuh khidmat
Jalan harapan menunggu dijamah
Ia mengangkat cinta dipermukaan realitas
Membelai kata memenjara rasa
Disampingnya duduk malaikat
Mencatat bahasa hati menjelma tindakan
Kau bertanya : adakah jalan lurus-lurus saja?
Adakah nurani memberi jawaban pasti?
Tidak cinta, kamarpun menghimpit
Meretakkan tulang manusia ingkar
Minggu, 19 November 2017
Gezag
Riak-riak sungai adalah pulang
Peluk hutan adalah senyap
Yang batangnya menunggu dibabat
Lumat Terinjak sepatu busuk tuan asing
Untuk kalian yang dikenang darah
Dengarlah suara minor yang dicebur dalam selokan
Berkubang dosa-dosa mereka para elit mapan
Diseret bak pesakitan oleh hukum tak berkeadilan
Tanah yang
dulu kau pijak bukan lagi tanah kami
Air yang dulu kau teguk bukan lagi air kami
Penyakit bangsa buntut gezag zalim
Adalah kami cermin Sabang-Merauke
Rabu, 08 November 2017
Tanjung Keramat Dan Batu Karang
Tanjung keramat dan batu karang
Naluri berbisik dalam pejam
Kepada daun yang kian mengering
Terik yang senang memantulkan ilusi
Cemar udara aroma keringat gairah
Jalan kerikil menyambut kita dengan
umpatan
Nyata berteriak “bagaimana dengan
kesaksian nanti?”
Sesaat terketuk pintu namun seketika
dibanting
Kudapati hikmah diujung cerita
Ketika kau beranjak menjauh dengan
duniamu
Akupun sibuk menata risalah
Kita menyimpan cerita yang sama dengan
makna berbeda
Hingga terjaga dari lelap yang sadar
Mencairnya batu karang ditanjung keramat
Kenyataan telah berbalik
Berkhianat pada penyatuan jasad yang merobek
Garis Kasar Di Horizon selatan
Garis
kasar di horizon selatan
Keteraturan mutlak sang entitas suci
Kemusykilan yang ditiadakan kuasa
Adakah janji-janji terjawab takdir?
Seperti rindu dan hari ini
Keteraturan mutlak sang entitas suci
Kemusykilan yang ditiadakan kuasa
Adakah janji-janji terjawab takdir?
Seperti rindu dan hari ini
Garis
kasar di horizon selatan
Waktu
yang berjalan kedepan tanpa menoleh kebelakang
Peduli
yang dengannya bait demi bait tercipta
Dekapan
hangat yang menjadi dingin
Seperti
rindu dan hari ini
Garis
kasar di horizon selatan
Mengambil
hikmah dari dinding hijau yang berubah putih
Ucap
serta air yang membasahi
Seperti
rindu dan hari ini
Nampaklah
dia dipenghujung gang sempit
Dengan
bibir yang membiru
Wajah
yang mencerminkan hari-hari yang suram
Seperti rindu dan hari ini
Kamis, 13 April 2017
Terasing Realitas
![]() |
| Terasing Realitas | fathan-rubel.blogspot.com |
Aku dan kebimbangan. lepas dan liar bersama
sejuta impian yang mengambang. kemana angin akan membawa? do'a dan harap yang
terpental jauh dari realitas. semu yang tenggelam...
Jalan, lorong, gang kecil, kamar, ruang tengah,
ranjang, musholah, masjid, elang menjadi saksi bisu ketika janji dan munajah
terucap. tulisan-tulisan, puisi yang terangkai indah tertulis tinta emas
sejarah, luntur dalam bisu. bukan siapa yang lebih baik, bukan siapa yang
paling dicinta, juga bukan siapa yang dahulu datang, namun semua tentang apa
yang disebut "Mengerti". yah, sesederhana itu;
"Mengerti"...
Tanyakan pada malam yang larut, ketika angin
menusuk tulang, terik mentari juga awan mendung seberapa besar ingin dan
kesungguhan yang ku gantung.
mungkin kau kan berkata : "Aku sibuk
dengan urusanku" atau "sudah kucoba untuk mengerti" atau
"aku ingin sendiri". perkataan yang sungguh menyayat hati. inikah
konsekuensi logis dari kedekatan yang berlebihan? atau delik yang didalangi
waktu?, penyembuh sekaligus pembunuh nomor satu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Titik Koma (;)
Padamkan amarahmu atas dunia yang sulit direka juga komentar-komentar itu. Cepat atau lambat kau hanya harus memilih; Pulang tapi tak kem...
-
[Butuk] Sejenak menarik jasad masuk kedalam ruang kontemplasi. Bukan sikap pengecut atau gerakan mundur dari pendalaman peran, melain...
-
Padamkan amarahmu atas dunia yang sulit direka juga komentar-komentar itu. Cepat atau lambat kau hanya harus memilih; Pulang tapi tak kem...
-
Manusia sebagai ciptaan Tuhan berbanding lurus dengan makna “Bergantung”. Konsekuensi dari kebenaran ini adalah keterbatasan. Sejauh ma...




