Rabu, 06 Juni 2018

Melerai Kusut

[Butuk]
Sejenak menarik jasad masuk kedalam ruang kontemplasi. Bukan sikap pengecut atau gerakan mundur dari pendalaman peran, melainkan sebagai langkah antisipasi kongkrit dari sebuah keterjatuhan. Terlintas keluh seorang kawan tentang runtuhnya pembatas kesantunan dalam pola pergaulan sosial. Mempersoalkan kebenaran melalui pembenaran sepihak untuk tujuan semu. Hebat berpolemik, maniak bahasa pola, permisif jika berhadapan. 
Selimut hitam ini terasa tanpa wujud ditengah peluk sunyi pukul tiga. Hanya ada suara-suara dari binatang malam yang mengutuk datangnya pagi. Khawatir terang melucut palsu yang di jaga selama ini. Berharap waktu bijak mengulur senja dipelupuk mata. 
Lagi, mimpi aneh mengganggu eksplorasi sudut-sudut imajinasi. Tentang headset kusut yang menghiasi saku. Sulit di lerai kait hasil pergumulan gerak tak menentu. Timpang citra berwujud kaku.

Kamis, 29 Maret 2018

Si Bokag


Entah sebuah kebetulan atau memang keadaan yang memaksa sadar tunduk pada pilihan-pilihan keliru. Semangat pada yang satu dan kebersamaan yang jauh sebelumnya telah dibangun para mogoguyang tidak lagi menjadi nilai yang dipandang berharga. Bagaimana mungkin mimpi berdikari menyentuh lapisan kenyataan sementara kita sibuk dengan kelompok kita sendiri?.
Disamping salah yang pada kenyataannya disadari, ada-ada saja pembenar yang datang menawarkan diri. Kemakmuran jangka panjang turut serta berdiri pongah penuh kebanggaan, adalah mimpi yang masih menari-nari dalam cerita takhayul. Merasa sedang dalam tugas suci padahal sedang dimainkan dalam guci.
Dimana posisi kita? ditengah pusaran kepentingan yang membuat linglung? tanyakan pada sadar yang menunggu diketuk. Sederhana sebenarnya. Duduk bersila, merenung dan lihat kenyataan yang terang. Setidaknya ada kebenaran yang tersembunyi menunggu di teruskan menjadi aksi nyata.
Katanya legowo. Menerima kenyataan dan siap kalah demi kebenaran. Omong kosong! tidak ada kejujuran disetiap peperangan. Apa yang menjadi tujuan itulah titah suci. Perkara usaha menggapainya, berlumuran lumpur busuk, bermandi dusta, adalah benar lakunya.
Tabiat suka berpecah dan lemah. merasa benar sedang kesalahan nyata didepan mata. atau memang ini alasan dibalik protes malaikat saat tuhan menciptakan Adam? setidaknya tanyakan itu pada masing-masing kita.
Tidak ada kami, tidak ada golongan, kita adalah satu yang berpencar. Harapan merajut kembali masih ada. Paling tidak dengan mengingat siapa kita. Bukan untuk mereka diatas sana.
Bokag... Bokag...

Minggu, 04 Februari 2018

Bait-bait Pesakitan

[Turn-Around]
Disini aku menolak luka. Bunyi-bunyian sumbang berarak mencari rumah. Ke perapian dan dingin yang menusuk-nusuk tulang. Dalam kebingungan itu, tak ada cahaya penuntun. Kenyataan intuisi tak cukup membaca situasi. Dikata malam adalah pengikat rindu. Adapun dengan rindu yang liar, Tidak bertuan dan selalu mengganggu? “Itu masalah rasa saudaraku”. Mereka berkelakar.
Tidak! Ini persoalan lain! Ringan langkah kakinya sedikit congkak. Tatapan lembut tak terpancar dikedua bola mata. Rasanya jarak yang diukur tak cukup ditempuh beribu gerhana. Lalu ini tentang apa?
Masih tanpa jawaban. lagi-lagi menantang angin dalam kecepatan. Bergejolak ia didalam, saling beradu siapa yang paling banyak membuang sadar. Tidakkah takut dengan kemungkinan itu? Tanyakan pada hati yang bergoyang mengakar rumput.
Lambat laun jalan semakin tak jelas arahnya. Gemericik air tak cukup merdu mengiringi lirik angin. Ada begitu banyak tanya menumpuk. Sesak nafas berhembus dalam perburuan waktu.
Untuk dia yang mengerti bait-bait pesakitan ini.

Sabtu, 27 Januari 2018

Agama, Manusia Dan Zaman Pembodohan



Manusia sebagai ciptaan Tuhan berbanding lurus dengan makna “Bergantung”. Konsekuensi dari kebenaran ini adalah keterbatasan. Sejauh mana manusia menempatkan rasio sebagai instrument pencarian kebenaran selalu saja dibatasi dengan kedaulatan Tuhan disisi lain. Artinya, akal sebatas ikhtiar manusia sedangkan wahyu berada diatas segala-galanya. Sehingga pengakuan akan ke-Esaannya dimaknai dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan Fundamentalis dalam agama-agama besar dunia yang muncul pada abad pertengahan sampai dengan saat ini sejatinya berasal dari rasa keterasingan. Modernisasi yang mengarah kepada faham materialis dianggap berbahaya bagi kelangsungan agama. Sebagai seperangkat nilai yang mengatur pola hidup manusia berdasarkan nilai-nilai kudus selama berabad-abad lamanya, kegelisahan ini tampak bisa dipahami. Pada masa ini, geraja, masjid, sinagog tidak lagi mampu menarik jemaatnya. Hal ini oleh dianggap sebagai dekadensi moral umat manusia.
Masyarakat religius merasa asing dengan dunia mereka. Isu sekularisasi di propagandakan dimana-mana. Leberalisasi berkedok “Humanisme” mengangkat derajat manusia setinggi-tingginya dan Tuhan serta agamanya dipandang sebagai sejarah yang tertinggal. Manusia harus selalu bergerak kedepan tanpa dihalang-halangi oleh doktrin agama yang mengikat kebebasan.
Kehancuran yang diakibatkan pandangan ini telah Nampak didepan mata kita. Penindasan manusia oleh manusia terjadi disetiap sudut bumi. Misi menjadi Khalifah telah dipelintir maknanya menjadi kekuasaan yang sewenang-wenang. Negara bahkan dunia dikuasai oleh segelintir orang. Mengeruk keuntungan tidak dibatasi oleh moral. Dunia menjadi tempat mencari kekayaan materi dan hanya itu saja.

Mencontoh Gerakan Revolusioner Rasulullah

Apa yang terjadi di dataran arab yang tandus sekitar abad keenam patut kita renungkan. peperangan antar suku dan masalah sosial yang kompleks menjadi saksi kelahiran manusia pilihan tuhan yang hadir sebagai teladan karena akhlak dan budi pekertinya. Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Muthalib lahir pada tahun gajah sekitas 570 Masehi. Sebelum kenabiannya beliau sudah dikenal karena kujujuran dan keluhuran budinya.
Sebagai penutup para Nabi dan Rasul Muhammad Rasulullah hadir ketika kekufuran dan kesyirikan merajalela dibumi Tuhan. Penyimpangan terhadap ajaran Nabi-nabi sebelumnya dan praktek penyembahan berhala telah membawa satu tesis yang penting; Revolusi Akhlak dan Aqidah.
Apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah menjadi bukti mutlak bahwa Tuhan tidak pernah berpaling dari ciptaannya. Sekilas mustahil memang. Seorang yang tidak tahu baca-tulis tiba-tiba mampu memberikan pengharapan kepada kaum tertindas serta menuntun kembali ke jalan kebenaran. Namun kita tahu, Tuhan dengan segala kuasanya.
Perbudakan, penindasan terhadap kaum wanita, dan kebanggaan berlebihan terhadap suku sendiri tak pelak melahirkan tatanan masyarakat yang immoral dan menyedihkan. Terciptalah masyarakat dengan struktur kelasnya. Disinilah peran Nabi Tuhan menghapuskan segala macam bentuk penindasan manusia oleh manusia. Tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior. Yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya hanyalah ketakwaannya terhadap sang pencipta.
Persaudaraan kemanusiaan adalah harus ditegakkan. Perbedaan adalah sunnatullah yang hikmahnya agar manusia saling mengenal. Sehingga tidak ada alasan perbedaan melahirkan kehancuran. Semangat revolusioner Islam sebagaimana yang dicontohkan Muhammad Rasulullah demi menegakkan keadilan dibumi Tuhan jelas bertentangan dengan etos kapitalisme. Dimana materi dituhankan sementara Tuhan yang sebenarnya dilupakan.

Kemana arah Aksi?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah akan kemana arah perjuangan ini ? Kita berada dizaman pembodohan dan kerakusan elit. Perubahan adalah idiom yang menunggu aksi nyata. Dekadensi moral adalah masalah serius. Rekonstruksi sosial jangan hanya berhenti sebatas wacana.
Tanggalkan segala ego kekanak-kanakkan. Berjuanglah hanya untuk cita-cita mulia dalam penantian “The second coming”, turunnya yesus dibumi dengan misi penyelamatan. Sehingga tatanan dunia bersih dari kejahatan iblis dan sekutunya. Dan pada akhirnya kembali disisi Tuhan dalam damai.

Minggu, 31 Desember 2017

Bahasa Di Penghujung Tahun





 
[Penghujung Tahun]

Ada godaan diawal langkah kaki. Sebab pertama yang nantinya mengiringi akibat selanjutnya. Soalan siapa dan bagaimana tidak lagi terbaca. Sebab putaran semesta masih sama. Ukuran seperti apa yang diperlukan? Dimana yang patah tersambung kembali. Kali ini jangan lagi berjalan tanpa harapan menunggu didepan. Frasa adalah penjelas yang sesungguhnya. Ia tidak bersembunyi atau berkamuflase dengan apa yang terlihat. Lebih dari itu, ia adalah bahasa yang lebih dalam. 
Aku tidak pernah mencari dan mengganti jalan. Kepercayaan pada tutur masih nampak meyakinkan. Kendati jurang semakin tak terhingga. Akupun tak mengerti bagaimana mungkin adalah mungkin. Bagiku semua bukan imaji liar. Entah apa yang lebih tinggi dari keyakinan ini. Mungkin tidak ada.
Saat-saat dimana bayangmu menjelma rindu dan aku terpaku disudut malam. Bayangkan lelah tak berjumpa dengan bangkit. Menyusun kembali serat-serat mati dari apa yang dinamakan mengerti. Bukan lagi hari ini atau kemarin. Esok adalah jawaban kusut dari lipatan hidup yang menemukan jawabnya. Masalah luka menganga yang tak kunjung kering soalan lain. Yang sakral tak pernah berpaling dan menilai pada apa yang tersesat dan mengharap pulang.
Misteri hidup yang menawarkan banyak genangan. Walau senyum kadang juga datang mendekap pagi dan petang.  Nyatanya itu semua tak cukup membendung kengerian akan hati yang tak kunjung menemukan pada siapa ia akan tinggal dan menetap. Selalu saja ada dinding yang retak disela-sela tawa. Ihwal senja yang semakin redup bersuara pada bercak pintu. Menunggu capaian dipuncak peluk gelap.
Malam penghabisan hari ditahun ini, semerbak wewangian mendapat tempat. Alpa yang sadar oleh aroma merpati petualang. Semoga hari-hari esok adalah jawaban.

Senin, 18 Desember 2017

Cerita Dari Negeri Taknyata

[Camar]
Disebuah negeri Taknyata, sedikit nyata, kenyataannya sedikit memalukan, nyatanya? sebegitu rumitkah kenyataan? nyata menggelitik. Konon dizaman itu, nyata perbedaan menjadi identitas yang dibanggakan. Sepak terjang juga manuver seperti lalat-lalat mengerubungi yondog basi. Tersebutlah sekelompok orang yang ditunjuk oleh raja sebagai pewaris untuk tinggal dan bertanggung jawab terhadap istana. Mereka menempati dua istana yang pada masa sebelumnya adalah milik kerajaan besar bernama Tobatu'. Selanjutnya, empat kerajaan lain mendirikan kerajaannya sendiri-sendiri dengan nama baru dan mandiri. Kerajaan-kerajaan baru itu bernama, deewa, tolu, opat dan lima. Menurut hukum dan kebiasaan secara otomatis istana yang sebelumnya adalah milik bersama, menjadi hak milik kerajaan asal (Induk) yaitu kerajaan Tobatu'. Kelima kerajaan yang pernah satu ini hidup dalam rukun dan harmonis. Kedamaian itu berubah ketika timbul rasa iri dari salah satu kerajaan.
Lahirlah kelompok yang merasa mempunyai hak kepemilikan istana Tobatu'. Mereka yang menamakan kelompok mereka sebagai PK (Pejuang Kesatuan) menganggap dua istana yang cukup nyaman itu adalah milik bersama tak ubahnya dulu. Awalnya gaungan mereka tidak terlalu diindahkan oleh para pewaris, dengan anggapan itu adalah pandangan yang tidak masuk akal dan mengada-ngada. Bagaimana mungkin istana mereka dianggap milik bersama sedangkan dengan jelas tertulis dan diakui secara hukum milik kerajaan Tobatu'? begitu pikir mereka. Namun demikian, walau sudah mendengar berita itu, dengan sifat penyayang dan ketulusan hatinya, mereka tetap menerima kunjungan dari saudara-saudaranya itu dan tidak pernah menutup pintu.
Kemarahan muncul ketika PK dengan tidak berperasaan dan tata krama membuat pesta di salah satu istana tanpa izin. Dengan tanpa rasa berdosa mereka berpesta ria tenggelam dalam hingar-bingar. "Istana ini adalah milik kami juga" begitu mungkin pikir mereka.
Dengan marah, pewaris istana mengadakan pertemuan dan memandang apa yang dilakukan PK adalah suatu pemberontakan yang harus diberangus sampai keakar-akarnya. Ini adalah Sebuah upaya untuk merebut istana mereka. Bedasarkan penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan mereka menemukan fakta dibalik pemberontakan itu. Ada usaha-usaha terselubung yang sarat kekuasaan. Ada oknum yang coba memanfaatkan perpecahan demi kepentingannya kedepan.

"Jangan harapkan surga dalam perjuangan penuh dosa".

Bersambung...

Minggu, 10 Desember 2017

Sssttt... Sedang Dalam Tugas Suci

[Secret]
Kebanyakan dari kita berfikir telalu jauh. Militansi palsu yang dibungkus kepentingan kekuasaan demi sesepuh yang disakralkan. Tembok tinggi tak membendung semangat yang didasarkan pada anggapan "Sedang mengemban tugas suci". Memainkan peran penting demi tercapainya cita-cita agung. Menggali jurang pemisah antara kawan dan lawan. sekali-kali tidak membuka pintu bagi mereka yang berseberangan. Mirip koboi namun lebih halus cara membunuhnya.
Kita mengenal banyak pembaharu dalam islam. sebut saja Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-afghani, Yusuf Qhardhawi, Muhammad iqbal. Kalau diindonesia ada KH. Hasyim Asyary, KH. Ahmad Dahlan dan lain-lain. Untuk tataran yang lebih kecil barangkali saudara-saudara kita itu aktor utamanya. Kata mereka semangat persatuan "Raya" adalah mutlak. Walau hanya pada pengertian golongannya.
Lucu kiranya berbicara tentang persaudaraan, pogogutat, motobatu' namun luput pemahaman pada pengertian lain. Sedikit benarnya apa yang dikata orang bijak tentang "obsesi melangit". Ketika merasa diri diatas, menengok kebawa adalah tabu yang berkonsekuensi "dosa Besar". Pencapaian nirwana adalah ambisi yang pada perjalanannya bermain-main dengan iblis. Keliru? setidaknya bagi mereka cukup jelas "tujuan menghalalkan cara". 

Siapa Kesatria Itu?

Bagi kebanyakan kesadaran yang dibius penyakit hati, tidak ada kemungkinan terjadi kolaborasi dengan diluar golongannya. "kesatria hanya ada satu! golongan kami!" tidak terlalu mengherankan jika kita mengambil pengertian dalam bingkai pertanyaan "Siapa kesatria itu?". Tentu medan pertempuran hanya ada mereka dan parah sesepuhnya yang nanti dikemudian hari akan dikenal sebagai pahlawan. 
Begitulah dunia dengan sifat permainannya. Bukankah iblis selalu membungkus keburukan dengan intan berlian? sehingga mempersulit persatuan antar umat Muhammad Rasulullah.

Rekonstruksi Makna Motobatu'

Persatuan diabad ini bahkan pada abad-abad sebelumnya, ketika dunia mulai mengenal nasionalisme, adalah suatu idiom yang digaung-gaungkan hampir disetiap penjuru bumi. Disadari bahwa kehidupan yang aman, damai sentosa tidak akan terwujud jika masing-masing bersikukuh pada makna sendiri-sendiri. Oleh dengannya, dalam budaya orang Mongondow-pun tidak lepas dari semangat-semangat luhur ini. Kita mengenal budaya motobatu' (persatuan) sebagai filosofi hidup yang akan senantiasa dimaknai dalam  praktek gotong-royong. Satu semangat yang nantinya akan membawa bumi totabuan dalam kehidupan berdikari, tidak benalu apalagi membuat malu. 
Pada kenyataannya, makna motobatu' masih tertidur jauh dibawah kesadaran adi luhur yang dilelapkan politik golongan.

Titik Koma (;)

Padamkan amarahmu atas dunia yang sulit direka juga komentar-komentar itu. Cepat atau lambat kau hanya harus memilih; Pulang tapi tak kem...